Beranda > Uncategorized > Para Penghuni Baru Ibukota

Para Penghuni Baru Ibukota


Backpacker

Backpacker

Ibukota, sering di identikkan dengan kemewahan, hidup enak, metropolitan dan banyak lapangan kerja. Banyak penduduk dari desa di setiap provinsi di negara ini yang menyebutnya “ladang uang”, tempat dimana semua kemudahan dalam mencari rejeki itu ada. Pabrik-pabrik, mall, pertokoan dengan mudahnya menjamur.
Dengan daya tarik yang demikian kuatnya, mendiring para pelancong dari desa bukan lagi hanya sekedar berkunjung tetapi mereka tinggal dan menetap di Jakarta dengan meninggalkan kehidupannya di desa. Demi mengadu nasib mereka memberanikan diri berpindah tempat tinggal, banyak diantara mereka yang hanya bermodalkan nekad (yang penting sampai jakarta dulu) memberanikan diri hijrah.
Hal yang mereka pikir akan mengubah taraf ekonomi, tidak tahu apa yang mereka akan lakukan sesampainya di Ibukota. Hasilnya, mereka hanya bisa menempatkan diri sudut kota yang jauh dari kata layak untuk dijadikan tempat hunian. Para pendatang baru itu sebagian besar hidup di kost-kosan, pinggiran kali (sungai), dekat rel kereta, terminal bus, tempat pembuangan sampah,trotoar dan bahkan ada yang hanya tinggal di kolong-kolong jembatan. Tentu, kodisi seperti ini mencerminkan keadaan hidup mereka yang sembrawut, sangat jauh dari apa yang mereka harapkan sebelumnya ketika dengan penuh semangat yang tinggi mereka berharap memperoleh kenaikan taraf ekonomi yang jauh lebih baik dari pada yang mereka dapati saat didesa.
Tentu hal seperti ini membawa dampak yang sangat buruk bagi  DKI Jakarta, di mana Pemda DKI Jakarta harus berpikir lebih keras lagi bagaimana cara untuk menanggulangi gelombang “penghuni” baru yang semakin lama semakin membuat wajah Ibukota seperti tempat penampungan para gelendangan dan pengemis seluruh negara. Belum lagi para pendatang yang bertingkah kriminal yang marak membuat resah warga, yang bertindak semaunya, mempertontonkan kekarassan.
Jika telah terjadi demikian perlu adanya tindakan yang cermat dan nyata untuk menanggulangi keadaan tersebut, Pemerintah Daerah harus lebih cermat lagi mengkondisikan daerahnya sedimikan rupa supaya dapat menekan pengaruh buruk dari pendatang-pendatang baru itu tanpa mencerminkan DKI Jakarta sebuah daerah hanya untuk kalangan orang-orang yang beruang saja.

 

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: